PERNIKAHAN BUKAN AJANG BALAPAN

Lagi dan lagi aku menemukan pasangan yang bermasalah didalamnya.
Oke. Kali ini aku tidak membenarkan diriku untuk tidak mengatakan pasangan mana / Rumah Tangga mana yang tidak mempunyai masalah didalamnya.

Tapi untuk ini banyak memang berlomba-lomba untuk menikah apalagi jika umurnya sudah beranjak 23-25 tahun. Nikah muda yang konon katanya sudah pantas untuk menikah tanpa memikirkan dirinya sudah siap atau belum untuk bertanggungjawab didalamnya.
Lagi aku tidak mengatakan bahwa disaaat kita berumah tangga, kita bisa belajar didalamnya. Sama-sama belajar untuk mengurus rumahtangga. Tidakkkkk!!! Jangan pernah berpikiran seperti itu.
Iyaaa, jika semisalkan suamimu bertahan dengan sifatmu yang mungkin tak karuan atau kekanakan. Atau iya jika misalkan kamu bertahan mempunyai suami yang tidak karuan dengan sifatnya yang terlalu emosional. Jangan ujung-ujungnya kamu mengatakan kepada keluargamu bahwa kamu tidak sanggup untuk mempunyai suami/istri seperti dia.

Sama halnya seperti memasuki Universitas Negeri, kamu harus belajar agar kamu lulus.
Seperti itu jugalah dalam pernikahan. Kamu harus belajar menguasai hal-hal yang layaknya sudah menjadi tanggungjawab seorang wanita contohnya memasak atau membersihkan rumah.

Haiiiii, pribadiku dulu ingin menikah di umur 25 tahun.
Tapi ternyata usiaku yang 25 tahun tidak selaras dengan sifatku yang masih kekanakan atau tidak mampu mengendalikan emosiku. Aku tidak mempunyai bakat untuk menganju diriku yang lagi marah, apalagi menganju orang lain.
Dan aku menekadkan untuk tidak menikah diumur 25 tahun ini.
Dan aku mengambil langkah untuk belajar menguasai diriku terlebih dahulu sebelum aku menguasai sifat suami dan anak-anakku ataupun bahkan keluarga dari suamiku.
Aku masih perlu membenahi segala hal termasuk dalam memasak ataupun membereskan rumah. Itu hal sangat kecil tapi aku tidak mampu untuk melakukannya.
Yahhhhhhh, sekarang aku akan berdiri untuk memfokuskan diriku untuk memasak dan membersihkan rumah dan berlanjut perlahan aku belajar untuk mengendalikan emosiku. Lalu mungkin berjalannya waktu aku belajar bagaimana bersikap dewasa.
Itu saja untuk kulakukan. Setelah aku mampu melewati itu, aku akan memilih pria mana yang sudah dipilih Tuhan untukku dengan kemampuan yang sudah Tuhan persiapkan untukku disaat aku sudah bertemu dia. Iya, aku harus mencintai diriku terlebih dahulu sebelum aku mencintai lelaki itu.

:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAMBAR

Hanya rindu

Terbaring sakit