First Kiss 20 Februari 2021

Dikala itu, aku dan dia sedang berbincang-bincang diruang tamu. 
Akhirnya aku melontarkan 1 Pertanyaan yang dimana membuat dia kaget dan akhirnya ngomong serius ke aku bahwa dia tulus mencintai aku tanpa batas. 
Aku, aku belum memahami bagaimana sebenarnya perasaan aku kepadanya. 
Disisi lain, keluargaku tidak mendukung aku untuk melanjutkan hubungan ini. 
Dan akhirnya aku menyampaikan kalimat itu ke dia. Aku tidak mau mengecewakan nya jika tiba² nanti aku akan memutuskan hubungan ini dikarenakan keluarga. 
Dia sedih, dia menangis. 
Aku sebagai wanita yang lebih memiliki perasaan 99% logika 1% dibanding pria yg memiliki perasaan 1% logika 99% , terhanyut karena melihat airmatanya. 
YaTuhann kenapa aku melukainya dengan perkataanku? Belum cukupkah selama ini aku menyusahkan dia dengan tingkahlakuku?
Tolong bahagiakan dia dengan wanita yang pantas. itu doaku sembari aku tahan tangis. 
Aku peluk dia. Aku peluk dia. Aku berharap kesedihannya segera hilang.
Tiba-tiba mata kami saling menatap.
Dia mengelus wajahku dengan sentuhan kasihnya yang tulus. Dia mengusap airmataku yang tak kusadari aku ternyata menangis. Lalu perlahan dia menyentuh bibirku, dia mangatakan "apakah boleh ?"
Aku menolak. Aku menolak karena aku merasa bukan aku wanita yang pantes untuk merasakan ciuman tulus dari dia, ucapku dalam hati.
Lalu aku peluk dia lagi. Aku menggeleng untuk mengartikan tidak karena aku belum siap.
Dan tiba-tiba aku tersentak dengan selama ini kebaikan yang sudah dia lakukan kepadaku. 
Bagaimana, jika nanti bukan dia yang bersamaku?
Bagaimana jika roda itu berputar ke arah wanita lain ? 
Selama ini lelaki ini begitu sabar menghadapiku. Selalu ada buat aku. 
Kenapa aku tidak mencoba untuk kissing dengan pria yang telah menjadi pacar pertamaku ini ? Bukankah seharusnya dia juga yang mendapatkan kissing pertamaku ini?
Memang dulu prinsipku, aku akan ciuman jika sudah menikah nanti. Kalaupun bukan dia pasanganku, kenapa aku tidak menghadiahkan kissing untuk dia ?Sebegitunya pikiranku. 
Lalu, dia mengangkat daguku ke atas. 
Dan dia menanyakan kembali, apakah boleh?
Dan aku menjawab, kenapa kamu gak sosor aja langsung? Kenapa kamu harus minta izin samaku yang aku belum siap untuk menerimanya. Dan ketika dia mau cium aku, dia refleks melepaskan dan mengatakan aku gak siap juga. 
Dan kami saling melepaskan. 
Lalu aku bilang, aku gak pantes untuk mendapatkan kissing dari lelaki baik seperti kamu.
Dan tiba-tiba dia langsung mencium bibir aku. Dia emut secara perlahan. Dia menjulurkan lidahnya ke mulut aku dan dia menghisap bibir atas dan bawahku dengan lembut secara bergantian. 
Itu hanya sebentar terjadi. Dan kami saling melepaskan. Dia mengambil minum untuk aku karena melihat aku shock. 
Aku terdiam dan menutup kepalaku. Aku bingung. Aku takut psykisku terganggu dikarenakan ini. Aku takut terbayang dan akan trauma dengan lelaki ini. 
Beberapa menit kami terdiam. Dia terus membujuk dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja dan Hal wajar untuk seorang pacaran. 
Tapi tidak dengan aku. Aku kembali menangis. Aku ketakutan. Sangat ketakutan. 
Apa yang harus aku perbuat?
Lalu untuk mengimpaskan kembali agar aku tidak menyalahkan dia, aku berinisiatif untuk kembali kissing dengan dia atas dasar permintaanku sendiri. Mungkin dengan cara ini psykis aku akan baik-baik saja dan tidak menyalahkan dia. Dan aku meminta kembali untuk dia mencium aku lagi tapi dia sempat menolak. Dan aku mengatakan ini atas permintaanku sendiri supaya baik. Karena aku tidak mau menyalahkan dia. 
Lalu aku mendekatkan kembali wajah aku ke dia, dan akhirnya dia mencium aku kembali. Kali ini sensasi rasa ciumannya sangat nikmat. Kadang aku menutup mataku untuk menikmatinya dan membuka kembali mataku untuk melihat bagaimana cara dia untuk mencium aku. Dia mengajari aku bagaimana untuk ciuman. Dia menjulurkan lidahnya ke lidahku. Akhirnya airliur kami saling menyatu. Dia menghisap bibirku sehingga terdengar suara kresekan. Kembali lagi dia menggerogoti bibir atas dan bawahku. Dia memainkan lidahnya didalam mulutku.
Ciuman ini berdurasi lebih lama dibanding yang pertama yang secara mendadak. 
Jujur, aku juga menikmatinya walau aku belum paham sama sekali taktik cara ciuman ini. Aku mencoba untuk mengikuti gerak gerik bagaimana mulut dia begitu sigap untuk memahami luasnya mulutku.
Dan sambil aku berharap dan berdoa, Tuhan aku tidak tahu ini baik atau tidak. Kumohon jangan biarkan aku menyalahkan dirinya atau diriku. Bantu normalkan pikiranku agar baik kedepannya. Amin. 
Dan usai ciuman, aku merasa jijik dengan diriku. Aku merasa aku bukan wanita baik. Aku merasa aku jahat. Aku tidak menepati komitmenku untuk tidak ciuman sebelum menikah. Aku marah sama diriku. Aku kecewa sama diriku. Aku wanita kotor. Wanita yang tidak bisa menjaga harga diriku. Yang tidak bisa menjaga hubungan ini beralaskan kasih Tuhan. Aku pikir ketika ciuman kedua kalinya dengan atas permintaanku, aku akan baik² saja. Ternyata tidak. Aku selalu dipenuhi dengan kejijikan. 
Akhirnya hubungan ini aku break. 
Sampai saat ini aku belum berani melihat dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAMBAR

Hanya rindu

Terbaring sakit